Antisipasi Lonjakan Harga dan Inflasi, Pemprov Berikan Reduksi Ongkos Angkut
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,SAMARINDA
-
Dalam rangka mengantisipasi dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)
terhadap inflasi, Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Perindagkop) dan
UKM Provinsi Kaltim melakukan beberapa strategi
untuk dapat menjaga ketersediaan barang kebutuhan pokok dan stabilisasi
harga.
Langkah-langkah yang dilakukan Pemprov Kaltim
melalui Dinas Perindagkop dan UKM dalam upaya antisipasi dampak kenaikan harga
BBM adalah dengan menyalurkan bantuan langsung tunai (BLT), bantuan peralatan
untuk UMKM dan memberikan reduksi ongkos angkut untuk stabilitas harga dan
ketersediaan barang kebutuhan pokok (bapok).
“Reduksi biaya transportasi/ongkos angkut
bapok dilakukan dari distributor ke agen/pengecer di kabupaten dan kota,” kata
Kepala Dinas Perindagkop dan UKM Provinsi Kaltim M Sa’duddin didampingi Kepala
Bidang Perdagangan Ali Wardana, Minggu (11/12/2022).
Menurutnya, langkah ini penting dilakukan
agar harga bapok di Kaltim tetap stabil dan tidak terjadi lonjakan berarti
termasuk jelang Natal dan tahun baru 2023.
Langkah ini lanjut Sa’duddin juga sebagai
tindak lanjut kebijakan pemerintah terkait kenaikan harga BBM, sesuai arahan
Presiden Joko Widodo agar semua provinsi melakukan langkah-langkah untuk pengendalian inflasi.
Sejauh ini, sejumlah distributor dari
kabupaten dan kota di Kaltim sudah mengajukan usulan untuk reduksi ongkos
angkut. Empat kabupaten yang sudah mengajukan usulan untuk reduksi ongkos
angkut itu adalah Mahakam Ulu, Kutai Barat, Penajam Paser Utara dan Kutai
Timur.
“Jadi dasarnya ada surat pengajuan operasi
pasar untuk reduksi ongkos angkut dari kabupaten dan kota. Sampai batas waktu
yang kami jadwalkan, baru empat kabupaten yang mengusulkan,” tambahnya.
Harapannya, dengan reduksi ongkos angkut
tersebut, maka seluruh pembiayaan transportasi ke kabupaten dan kota bisa
ditanggung oleh Pemprov Kaltim. Sehingga dengan demikian, maka harga jual bapok
di daerah bisa tetap stabil dan inflasi terkendali. Para distributor, agen dan
pengecer diingatkan agar tidak menaikkan harga berlebihan karena ongkos angkut
sudah ditanggung pemerintah.
“Selain itu, kami juga memastikan pasokan
bapok aman dari daerah penghasil seperti Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi
Selatan dan Kalimantan Selatan,” sebut Sa’duddin.
Disperindagkop dan
UKM Kaltim pun telah mengirimkan tim untuk melakukan pemantauan terhadap
ketersediaan pasokan dari sejumlah provinsi penghasil bapok sejak pekan kedua
Desember tadi. Biaya transportasi pengiriman bapok dari daerah penghasil bapok
pun ditanggung Pemprov Kaltim agar tidak terjadi lonjakan harga jelang Natal
dan tahun baru, serta mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM. (mar)